Dewasa ini ditengah-tengah kemakmuran yang melejit, bangsa-bangsa didunia bersiap-siap untuk memasuki milenium baru dengan bernuansa modernisme, mengapa manusia pedalaman, pesisir pantai ditantang untuk memasuki abad baru yang menantang itu dengan berbusana tradisi masing-masing masyarakat papua. Mungkinkah strategi pembangunan yang keliru sehingga mendiskriminasikan untuk menikmati hasil-hasil pembangunan ataukah Tuhan menciptakan mereka (orang tua kami) hidup dalam keadaan begini sepanjang perjalanan hidup mereka. Survivekah mereka? Pertanyaan reflektif inilah yang mendorong kami sebagai anak mereka yang dilahirkan di pedalaman dan pesisir papua harus mengadakan analisa secara ilmiah tentang bagaimana tantangan membangun mereka, dan apa peluang untuk membangun mereka, serta apa peluang untuk menentukan perspektif masa depan yang tepat buat mereka diatas tanah papua . Dan kami menyadari bahwa hal itu terjadi karena kita tidak mengambil keputusan dengan baik sesuai dengan pola pikir yang dipengaruhi oleh budaya setempat atau peradabaan hidup mereka.
Mengambil keputusan ini sangat penting sebab dewasa ini kita menyaksikan terjadi berbagai perubahan baik secara radikal revolusional maupun evolutif gradual. Perubahan yang kini sedang terjadi merupakan pencerminan peradabaan hidup manusia (The human civilistion of life ) pada masa lampau. Perubahan selalu mengarah pada kemajuan maupun juga kemunduran. Salah satu hasil dari perubahan budaya itu adalah kini masyarakat papua menyadari akan pentingnya pendidikan, perumahan, kesehatan, keamanan akan sandang, pangan dan papan.
Namun ada juga nampak perwujudan kehilangan nuansa peradabaan hidup seperti degradasi nilai-nilai yang dianut selama ini. Karena itu kita mengalami kesulitan membangun papua sehingga hingga penghujung abad 20 ini mereka masih tertinggal diantara suku suku lain di luar pulau papua. Akhirnya hasilnya kurang akan jumlah siswa di tingkat SD, SMP, SMU, dan Mahasiswa. kurangnya gisi. Kurangnya kesadaran akan kemajuan pada diri mereka itu salah siapa?. Salah satu yang bisa membebaskan mereka dari kemiskinan dan keterbelakangan adalah melalui suatu pengambilan keputusan oleh seorang pemimpin daerah yang didasarkan pada cerminan tuntutan hati nurani rakyat setempat.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan pembangunan yang bersifat uniformitas dalam segala dimensi, termasuk booming pertumbuhan ekonomi dengan mengandalkan pada usaha yang berskala besar, dengan investasi besar yang tidak dapat dipenuhi oleh masyarakat lokal sebab seluruh komoditas dipenuhi oleh pemerintah pusat sementara dimensi lokalnya diabaikan menjadi sumber ketertinggalan masyarakat setempat. Karena itu perlu dicarikan satu model pembinaan mental usaha yang menitikberatkan pada intensifikasi usaha tradisional. Hal ini bisa dilakukan kalau menempatkan seorang pejabat daerah yang mau menerima keinginan rakyat kecil. By (Tinus Pigai): sumber Decky P Staf Graha Budaya Indonesia



Ditulis Oleh : Tinus Pigai ~ harapan-diri.blogspot.com

Artikel SUKU-SUKU DI PAPUA DAN FILSAFAT HIDUP MEREKA ini diposting oleh Tinus Pigai pada hari Minggu, 07 Februari 2010. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.